Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Untukmu Ayah dan Bundaku


Oleh: Peni Widi Hastuti

Panas, menyengat dan membara
Teriknya matahari membakar kulitmu
Butiran peluh selalu mengalir di tubuhmu
Begitu deras bagaikan ombak menyapu karang

Tak pernah sedikitpun kulihat rasa lelah
Tak pernah aku mendengar kau mengeluh
Dan tak pernah sekalipun kudapati rasa sesal
Untuk siapakah semua itu?

Saat sejenak kau terhenti
Slalu kulihat senyum indah di wajahmu
Begitu tulus dan penuh harapan
Tergores di wajah yang mulai keriput termakan usia

Aku mulai merenung mencari jawaban
Kucoba membaca arti dari tulusnya senyummu
Memahami setiap untaian doamu
Dan kini akupun mengerti..

Dalam diam aku meminta
Dalam hening aku berdoa
Tuhan panjangkanlah umurnya
Bahagiakanlah hidupnya karena ku tak rela jika ia terluka
*
Tuhan kuatkanlah hatinya
Lapangkanlah jalannya
Aku sangat menyayanginya
Yang tercinta ayah dan bunda..

Rabu, 05 Desember 2012

Save Our Earth


Oleh: Peni Widi Hastuti

Dulu saat ku terbangun di pagi hari
Ku dengar nyanyian burung yang sangat merdu
Tapi kini saat ku terbangun
Hanyalah deru kendaraan yang dapat ku dengar

Dulu sejauh mata memandang
Ku lihat indahnya hijau dedaunan
Tapi kini tinggalah gersang, kering dan tandus
Berselimut bayang–bayang wajah serakah harta

Dimana alamku yang indah dulu?
Alam tempat kuhidup tenang
Alam yang selalu menyediakan segala kebutuhan
Dimana ia ?

Andaikan alam bisa memohon
Pasti ia akan berkata “ tolong jaga aku, jangan rusak aku”
Tapi semua itu hanyalah sebuah pengandaian
Pengandaian yang tiada mungkin dimengerti

Wahai kawan, tengoklah alam kita
Air jernih telah menjadi keruh
Hutan rimbun telah menjadi gundul
Udara sejuk telah berganti panas

Pantaskah kita?
Menjadi penonton untuk semua kepiluan ini
Saatnya kita bangkit, saatnya kita berubah
Agar alam kita dapat kembali tersenyum.